Ketika suatu hari di sebuah situs, saya membaca karya yang ditulis oleh Nadirsyah Hosen. Saya merasa terpanggil untuk menyuarakan ini kepada teman-teman sekalian.
Karya tersebut menyangkut kebesaran Allah terhadap dosa-dosa yang selama ini kita lakukan dalam keadaan sadar ataupun tidak. Berawal dari semuanya Allah menciptakan kita sebagai manusia yang tak luput dari kekurangan, dosa dan kesalahan. Namun bukan berarti kan kita adalah makhluk penampung kekurangan, dosa dan kesalahan?
Pernahkah kita menghitung dosa kita selama ini? dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita?
Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi? Saya sangat setuju dari apa yang diutarakan Nadirsyah Hosen dan Saya juga menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menaham muatan dosa kita.
Bukankah shalat kita masih "bolong-bolong"? Bukankah pernah kita tahan hak orang miskin yang ada di harta kita? Bukankah pernah kita kobarkan rasa dengki dan permusuhan kepada sesama muslim? Bukankah kita pernah melepitkan selembar amplop agar urusan kita lancar? Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya? Dan masih banyak lagi kelaakuan-kelakuan yang sebenarnya membuat kita sewaktu-waktu mengundang dosa ini mengisi kotak yang kita sediakan tadi.
Daftar ini akan menjadi sangat panjang......
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.
Karena itu, mulai saat ini, marilah kita kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang fitri dan nazih.
Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih? Bagaimana kalau tiba-tiba onta itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya? Bukankah Anda akan bahagia? "Ketahuilah," kata Rasul, "Allah akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali menuju-Nya!"
Allah berfirman: "Dan kembalilahh kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (QS 39:54)
Seperti onta yang sesat jalan dan mungkin telah tenggelam di dasar samudera, mengapa kita tak berjalan kembali menuju Allah dan menangis di "kaki kebesaran-Nya" mengakui kesalahan kita dan memohon ampunNya...
Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!
Melalui tulisan ini saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Nadirsyah Hosen karena karyanya telah menyadarkan dan merubah kebiasaan saya untuk selalu mengintropeksi diri di setiap langkah yang saya ambil, di setiap perbuatan yang saya lakukan dan di setiap keputusan yang saya ambil. Semoga tulisan ini juga mampu menginspirasi dan menyadarkan banyak orang untuk menjadikan kita makhluk yang selalu menyadari Kebesaran Allah swt.
Karya tersebut menyangkut kebesaran Allah terhadap dosa-dosa yang selama ini kita lakukan dalam keadaan sadar ataupun tidak. Berawal dari semuanya Allah menciptakan kita sebagai manusia yang tak luput dari kekurangan, dosa dan kesalahan. Namun bukan berarti kan kita adalah makhluk penampung kekurangan, dosa dan kesalahan?
Pernahkah kita menghitung dosa kita selama ini? dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita?
Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi? Saya sangat setuju dari apa yang diutarakan Nadirsyah Hosen dan Saya juga menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menaham muatan dosa kita.
Bukankah shalat kita masih "bolong-bolong"? Bukankah pernah kita tahan hak orang miskin yang ada di harta kita? Bukankah pernah kita kobarkan rasa dengki dan permusuhan kepada sesama muslim? Bukankah kita pernah melepitkan selembar amplop agar urusan kita lancar? Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya? Dan masih banyak lagi kelaakuan-kelakuan yang sebenarnya membuat kita sewaktu-waktu mengundang dosa ini mengisi kotak yang kita sediakan tadi.
Daftar ini akan menjadi sangat panjang......
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.
Karena itu, mulai saat ini, marilah kita kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang fitri dan nazih.
Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih? Bagaimana kalau tiba-tiba onta itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya? Bukankah Anda akan bahagia? "Ketahuilah," kata Rasul, "Allah akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali menuju-Nya!"
Allah berfirman: "Dan kembalilahh kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (QS 39:54)
Seperti onta yang sesat jalan dan mungkin telah tenggelam di dasar samudera, mengapa kita tak berjalan kembali menuju Allah dan menangis di "kaki kebesaran-Nya" mengakui kesalahan kita dan memohon ampunNya...
Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!
Melalui tulisan ini saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Nadirsyah Hosen karena karyanya telah menyadarkan dan merubah kebiasaan saya untuk selalu mengintropeksi diri di setiap langkah yang saya ambil, di setiap perbuatan yang saya lakukan dan di setiap keputusan yang saya ambil. Semoga tulisan ini juga mampu menginspirasi dan menyadarkan banyak orang untuk menjadikan kita makhluk yang selalu menyadari Kebesaran Allah swt.
I Love u sayang,,,
BalasHapushebat... ur my inspiring